Pakar Hukum Tata Negara Nilai Penetapan Tersangka oleh Polri Tak Memerlukan Persetujuan Presiden

Jakarta – Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Esa Unggul, Prof. Dr. Juanda, S.H., M.H., menegaskan bahwa proses penetapan tersangka merupakan kewenangan penyidik yang dijalankan berdasarkan ketentuan hukum, tanpa harus memperoleh persetujuan Presiden.

Pernyataan tersebut disampaikan Prof. Juanda menanggapi pernyataan kuasa hukum mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah, yang mempertanyakan tidak adanya izin Presiden sebelum Polri menetapkan kliennya sebagai tersangka dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Menurut Prof. Juanda, tidak ada satu pun regulasi yang mengatur kewajiban Kapolri untuk meminta izin kepada Presiden dalam proses penegakan hukum terhadap seseorang yang telah memenuhi syarat sebagai tersangka.

“Yang menjadi dasar penyidik adalah alat bukti yang cukup sesuai ketentuan hukum, bukan persetujuan pihak lain. Karena itu, saya tidak melihat adanya dasar hukum yang mengharuskan Kapolri meminta izin Presiden,” ujarnya.

Ia juga mengkritisi pernyataan yang menyebut penetapan tersangka terhadap Febrie Adriansyah sebagai bentuk kriminalisasi. Menurutnya, tudingan tersebut tidak dapat disampaikan tanpa didukung dasar hukum dan bukti yang jelas.

Prof. Juanda meyakini penyidik Polri telah menjalankan proses secara profesional dan penuh kehati-hatian, mengingat perkara tersebut melibatkan mantan pejabat tinggi di institusi penegak hukum.

“Yang saya tahu, penyidik Polri pasti sangat hati-hati menersangkakan seorang pejabat di sebuah institusi penegak hukum sekelas Jampidsus,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menilai setiap advokat memang memiliki hak untuk membela kepentingan kliennya. Namun, pembelaan tersebut seharusnya tetap berada dalam koridor hukum dan tidak membangun narasi yang dapat menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

“Saya kira setiap pengacara berhak menggunakan strategi pembelaan. Namun, strategi itu jangan sampai mengaburkan prinsip-prinsip hukum yang berlaku atau membentuk opini yang menyesatkan publik,” tutup Prof. Juanda.

  • Related Posts

    Tingkatkan Produktivitas Pertanian, Polsek Sidayu Siap Mendampingi Petani Lokal

    GRESIK – Jajaran Kepolisian Sektor (Polsek) Sidayu turun langsung ke lahan pertanian warga di Desa Sukorejo, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, Selasa (21/7/2026). Langkah ini dilakukan guna memastikan pertumbuhan tanaman cabai…

    Sinergi Jaga Marwah Lembaga Negara, MKD DPR RI Kunjungi Polres Gresik Perkuat Kolaborasi dan Pengawasan TNKB Khusus

    GRESIK – Polres Gresik menerima kunjungan kerja Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI di Ruang Sarja Arya Racana (Rupatama) Mapolres Gresik, Senin (20/7/2026). Kegiatan tersebut menjadi momentum memperkuat sinergi antara…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Berita Pilihan

    Tingkatkan Produktivitas Pertanian, Polsek Sidayu Siap Mendampingi Petani Lokal

    Tingkatkan Produktivitas Pertanian, Polsek Sidayu Siap Mendampingi Petani Lokal

    Sinergi Jaga Marwah Lembaga Negara, MKD DPR RI Kunjungi Polres Gresik Perkuat Kolaborasi dan Pengawasan TNKB Khusus

    Sinergi Jaga Marwah Lembaga Negara, MKD DPR RI Kunjungi Polres Gresik Perkuat Kolaborasi dan Pengawasan TNKB Khusus

    Polresta Sumenep Ungkap Peredaran Sabu Jaringan Sampang, Tiga Tersangka Diamankan

    Polres Lumajang Pastikan Keamanan MBG Lewat Uji Lab Ketat di Dua Titik SPPG

    Pakar Hukum Tata Negara Nilai Penetapan Tersangka oleh Polri Tak Memerlukan Persetujuan Presiden

    Polres Pasuruan Bongkar Jaringan Peredaran Narkoba Amankan Tiga Orang Tersangka